Category Archives: parrot trade

Bird Market Still Many trading Wildlife

Pasar Burung Masih Banyak Perdagangkan Satwa Dilindungi

FOTO: Yoppy H/Burung Indonesia
Kakatua maluku (Cacatua moluccensis)

Perdagangan satwa langka yang dilindungi undang-undang ternyata masih tinggi. Survei terakhir ProFauna Indonesia dengan dukungan dari World Animal Net (WAN) yang dilakukan di 70 pasar burung di Jawa pada bulan Mei-Juli 2009 menemukan ada 183 ekor satwa dilindungi yang diperdagangkan. Satwa malang tersebut antara lain kukang (Nycticebus coucang), lutung jawa (Trachypithecus auratus), tarsius (Tarsius bancanus), nuri kepala hitam (Lorius lory), kakatua seram (Cacatua moluccensis), elang hitam (Ictinaetus malayensis), dan rangkong badak (Buceros rhinoceros).

Dari 70 pasar burung atau lokasi yang dikunjungi di 58 kota tersebut, ada 14 pasar burung yang memperdagangkan burung nuri dan kakatua, 21 pasar memperdagangkan primata, 11 pasar memperdagangkan mamalia, dan 13 pasar memperdagangkan raptor (burung pemangsa). Selain itu tercatat ada 11 pasar yang memperdagangkan jenis burung berkicau yang dilindungi. Burung berkicau yang dilindungi yang diperdagangkan itu adalah jenis jalak putih (Sturnus melanopterus) dan burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis).

Provinsi yang paling banyak memperdagangkan satwa dilindungi adalah Jawa Timur. Sementara itu, pasar yang paling banyak memperdagangkan jenis-jenis satwa dilindungi adalah Pasar Burung Depok di Kota Solo, Jawa Tengah. Urutan berikutnya adalah Ambarawa.

Perdagangan satwa dilindungi di pasar-pasar burung besar seperti di Surabaya, Semarang, dan Jakarta terjadi secara sembunyi-sembunyi. Satwa langka tersebut tidak dipajang secara terbuka, namun disembunyikan di gudang atau rumah pedagang.

Kota yang paling banyak memperdagangkan burung nuri dan kakatua adalah Semarang, sedangkan yang paling banyak memperdagangkan primata adalah pasar burung Pramuka di Jakarta dan pasar Mantingan di Ngawi, Jawa Timur.

Harga satwa yang diperdagangkan di pasar burung sangatlah bervariasi, tergantung pada umur satwa, jenis satwa, status perlindungan, ketersediaan barang, dan calon pembeli. Untuk jenis-jenis mamalia, primata serta burung-burung raptor semakin muda umurnya semakin mahal pula harganya.

Tarsius yang merupakan primata kecil dijual seharga Rp 500 ribu, sedangkan lutung jawa seharga Rp 200 ribu. Kukang biasa ditawarkan seharga Rp 75 ribu-250 ribu per ekor. Sedangkan harga burung kakatua jauh lebih mahal yaitu antara Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta.

Penegakan hukum lemah

Masih tingginya perdagangan satwa dilindungi di pasar-pasar burung itu dikarenakan masih lemahnya penegakan hukum. ”Seharusnya pedagang satwa dilindungi itu ditindak tegas karena melanggar hukum dan mengancam kelestarian satwa di alam,” kata R. Tri Prayudhi, campaign officer ProFauna. Menurut UU nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan satwa dilindungi bisa dikenakan ancaman hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Temuan ProFauna tentang perdagangan satwa dilindungi di pasar-pasar burung tersebut diharapkan bisa mendorong pemerintah untuk melakukan kontrol yang lebih ketat terhadap perdagangan satwa liar. Penegakan hukum terbukti efektif meredam perdagangan satwa dilindungi di beberapa daerah. Jika perdagangan satwa langka itu dibiarkan terus berlangsung, dikhawatirkan akan semakin banyak satwa Indonesia yang masuk dalam kategori terancam punah. (Praminto Moehayat/Burung Indonesia)

Sumber Burung Indonesia

Iklan

Nuri & Kakatua Terancam Punah

Bangsa Indonesia tidaklah pernah bersyukur atas Kekayaan alam yang melimpah ruah di seantero jagat negeri yang bernama INDONESIA, Kekayaannya hanya dijual eceran, diburu, ditembak, dan diselundupkan, bahkan terbunuh dengan kejam tanpa makna.

Inilah namanya perusakan alam. Bukankah tuhan melarang yang namanya membuat kerusakan di muka bumi.

coba lihatlah kekeyakan jenis dari burung paruh bengkok (baca nuri dan kakatua) yang terus ditangkap dan di buru untuk diperdagangkan

Perburuan Liar Ancam Populasi Kakatua Seram

Minggu, 4 Januari 2009 | 07:34 WIB

MASOHI, MINGGU – Populasi burung kakatua Seram (Cacatua moluccensis) di Taman Nasional Manusela terus menurun akibat perburuan liar. Satwa endemik di Pulau Seram, Provinsi Maluku itu diperkirakan tinggal 400 ekor dari 1.000 ekor pada akhir 1990-an. Kakatua berbulu putih dengan jambul oranye ini dijual ke Ambon, Bali dan Jakarta.

Perburuan liar juga mengancam satwa liar lainnya seperti nuri raja ( Alisterus amboinensis), nuri kepala hitam (Lorius domicella), rusa ( Cervus timorensis moluccensis) dan kasuari (Casuarius casuarius).

Supriyanto, Kepala Balai Taman Nasional Manusela menjelaskan, perburuan liar merupakan ancaman utama bagi kakatua Seram. Para pemburu sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi. Mereka menggunakan alat-alat berburu tradisional seperti jerat dan jebakan burung. “Perburuan kakatua masih banyak dilakukan di desa-desa terpencil. Para pemburu biasanya berjalan kaki 3 hingga 4 hari untuk berburu,” ujar Supriyanto.

Berdasarkan penelusuran di Ambon, kakatua Seram biasa dijual sekitar Rp 500 ribu per ekor. Kakatua dibawa ke Ambon dengan menumpang kapal-kapal pelayaran rakyat yang sandar di pe labuhan Slamet Riyadi. Pengawasan terhadap perdagangan satwa liar di Ambon oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam masih sangat longgar. Masyarakat leluasa membawa satwa dilindungi itu tanpa halangan petugas.

Perburuan liar, lanjut Supriyanto, terus menurunkan populasi burung endemik Pulau Seram itu. Saat ini, hanya ada sekitar 400 ekor kakatua Seram yang tersebar di Sawai, Masihulan dan Wahai. Populasi di sekitar lokasi ekowisata Teluk Sawai dan Masihulan diperkirakan sekitar 100 ekor.

Populasi kakatua di lokasi itu relatif terjaga karena ada Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) yang melibatkan peran masyarakat lokal. Satwa liar yang berhasil diselamatkan dari perburuan maupun perdagangan liar direhabilitasi di PRS sebelum dilepas ke habitat aslinya.

PRS, lanjut Supriyanto, mempekerjakan para mantan pemburu satwa sebagai karyawan. Mereka kini menjadi pelindungi hutan yang menjadi habitat satwa liar. Kegiatan itu mampu menekan perburuan satwa liar yang sempat marak di Sawai dan Masihulan. Masyarakat di sekitar Sawai dan Masihulan juga dibina untuk mengelola desa ekowisata.

Kegiatan andalan adalah pengamatan burung dari menara setinggi 25 meter, pendakian, penelusuran goa dan menyelam. Di teluk Sawai yang jernih dengan terumbu karang yang indah juga ada penginapan terapung untuk para wisatawan.

“Kita berusaha mengembangan ekowisata ini supaya masyarakat memperoleh penghasilan sehingga meninggalkan perburuan satwa l iar. Saat ini, kunjungan wisata masih sedikit, sekitar 150 turis asing setiap tahun,” ujar Supriyanto.

Taman Nasional Manusela ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 281/Kpts-IV/1997. Kawasan konservasi seluas 189.000 hektar ini merupakan gabungan Cagar Alam Wai Nua dan Cagar Alam Wai Mual. Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati 241 jenis pohon, 120 jenis paku-pakuan, 100 jenis lumut, 96 jenis anggrek, 196 jenis aves, 24 mamalia, 200 jenis kumbang, 90 jenis kupu-kupu 46 jenis reptil , 19 jenis ikan air tawar dan 8 jenis ampibi.

Sumber: Kompas

Ribuan Nuri dan Kakatua Diselundupkan ke Filipina

Kamis, 22 Mei 2008 | 17:16 WIB

JAKARTA, KAMIS – Setiap tahun, sekitar 10.000 ekor burung langka jenis paruh bengkok, antara lain nuri dan kakatua, diselundupkan ke Filipina. Burung-burung tersebut diduga ditangkap dari kawasan Halmahera Utara dan Sulawesi Utara, Provinsi Maluku Utara.

“Sekitar 41 persen burung yang ditangkap dari Halmahera diselundupkan ke Filipina lewat perdagangan di tengah laut, dengan perahu nelayan dan kapal boat pribadi,” kata R Tri Prayudhi, seorang penggiat LSM lingkungan ProFauna Indonesia di Jakarta, Kamis (22/5) siang. Data tersebut diungkapkan dalam laporan investigasi terbaru berjudul “Pirated Parrot”, yang menginvestigasi perdagangan burung paruh bengkok di Kepulauan Talaud, Halmahera Utara, dan Filipina pada periode Juni-September 2007.

Menurut temuan ProFauna, burung-burung paruh bengkok Indonesia terutama yang berasal dari Pulau Halmahera, Maluku Utara, banyak diselundupkan ke Filipina lewat pelabuhan di Desa Pelita, Kecamatan Galela, Halmahera Utara. Jenis burung yang paling sering diselundupkan ke Filipina yakni kakatua putih (Cacatua alba), kesturi Ternate (Lorius garrulus), bayan (Eclectus roratus), dan nuri kalung ungu (Eos squamata).

“Penyelundupan burung paruh bengkok ke Filipina ini melanggar ketentuan CITES (Konvensi Internasional tentang Perdagangan Spesies Terancam Punah), yang telah diratifikasi Indonesia sejak 1978,” katanya. Semua jenis burung paruh bengkok adalah spesies yang termasuk dalam appendix II, yang boleh diperdagangkan asalkan spesies itu hasil penangkaran alias bukan hasil tangkapan langsung dari alam.

Pada kenyataannya, penangkapan masih saja terjadi, dan Departemen Kehutanan pun masih mengizinkan kuota tangkap. ProFauna mencatat, di tingkat penangkap, burung bayan dihargai Rp60.000 per ekor. Saat dijual di Surabaya, harganya menjadi Rp600.000, dan ketika sampai di Filipina dijual dengan harga Rp1 juta.

“Bila kita hitung 10.000 burung diselundupkan ke Filipina semua dengan harga 1 juta rupiah, maka negara Indonesia dirugikan 10 miliar rupiah per tahun,” kata Tri.

Sumber: <a href=" “>Kompas
.
Populasi Kakatua Putih Terancam Punah

Selasa, 8 April 2008 | 21:47 WIB

TERNATE, SELASA – Maraknya perdagangan Burung Kakatua Putih (Cacatua alba) mengancam kelestarian burung endemik Provinsi Maluku Utara itu. Sejak tahun 2002, sedikitnya 3.300 ekor Kakatua Putih yang ditangkap dari habitan liarnya di Pulau Halmahera untuk diperdagangkan. Kakatua Putih diperdagangkan di sejumlah pasar burung di Jakarta, Surabaya, dan Filipina.

Hal itu disampaikan Parrot Campaign Officer ProFauna Indonesia, R Tri Prayudhi, dalam Rapat Kerja Upaya Perlindungan Burung Kakatua Putih di Ternate, Selasa (8/4). “Selain terancam punah karena maraknya perdagangan satwa liar, Kakatua Putih juga terancam oleh degradasi hutan hutan. Baik pembukaan hutan untuk pertanian maupun kegiatan pertambangan,” kata Tri.

Kakatua Putih adalah burung endemik, hanya ditemukan di Pulau Halmahera, Bacan, Ternate, Tidore, Kasiruta, dan Mandiole. Menurut Tri, pada 1980 luasan hutan di keenam pulau tersebut masih 90 persen dari luas daratannya.
“Saat ini, luasan hutan tinggal 59 persen dari total luas daratan. Jumlah populasi total Kakatua Putih di keenam pulau itu pada tahun 1992 diperkirakan antara 42.545 – 183.129 ekor,” kata Tri.

Selain menjadi habitat Kakatua Putih, Maluku Utara juga menjadi habitat dari sejumlah burung paruh bengkok yang sebarannya terbatas. Burung paruh bengkok yang sebarannya terbatas dan memiliki habitat di Maluku Utara itu antara lain Nuri Kalung Ungu (Eos squamata), Bayan (Eclectus roratus), dan Kasturi Ternate (Lorius garulus).
Perburuan untuk perdagangan Kakatua Putih, Nuri Kalung Ungu, Bayan, dan Kasturi Ternate paling marak terjadi di Kabupaten Halmahera Utara.

“Di Tobelo, Halmahera Utara, terdapat penampung burung paruh bengkok yang ditangkap dengan jaring atau getah. Setelah ditangkap, Kakatua Putih biasanya dicuci dengan sabun detergen, sehingga bulunya benar-benar putih. Setelah itu diperdagangkan,” kata Tri.

Dari investigasi perdagangan satwa liar ProFauna dan RSPCA pada tahun 2007, ditemukan 9.760 burung paruh bengkok yang diperdagangkan di Jakarta, Surabaya, dan Filiphina. “Di Jakarta, burung paruh bengkok diperdagangkan di Pasar Burung Pramuka, Pasar Burung Barito, dan Pasar Burung Jatinegara. Di Surabaya burung paruh bengkok diperdagangkan di Pasar Turi, Pasar Bratang, dan Pasar Kupang. Sekitar 4.000 burung paruh bengkok diperdagangkan ke Filipina, dibawa keluar Indonesia melalui Tobelo dan Sanger,” kata Tri.

Dari investasi yang sama, diketahui bahwa permintaan Kakatua Putih di sejumlah pasar burung di Jawa dan Bali semakin meningkat. “Pada tahun 2006, permintaan burung Kakatua Putih hanya mencapai 108 ekor. Tahun 2007, jumlah permintaan burung di pasar yang sama naik menjadi 120 ekor. Kuota penangkapan Kakatua Putih yang ditetapkan pemerintah tidak efektif, sementara permintaan pasar terus meningkat. Itu mengapa Kakatua Putih harus ditetapkan sebagai satwa dilindungi,” kata Tri.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate, Ir Suryati Tjokrodiningrat MSi, berpendapat perburuan Kakatua Putih terjadi karena ada permintaan dari pasar. “Pemerintah pernah menetapkan kuota penangkapan 10 ekor indukan untuk penangkaran, akan tetapi perburuan tetap terjadi. Jika perburuan liar tetap terjadi, berarti penangkaran gagal.

Jika burung itu bisa ditangkarkan oleh masyarakat, tentunya ini justru bisa menjadi potensi pendapatan bagi masyarakat yang mau menangkarkannya. Selama persoalan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat tidak terjawab, maka permintaan pasar akan Kakatua Putih pasti memicu perburuan liar,” kata Suryati.
Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga peneliti burung pemangsa, Dewi M Prawiradilaga, menjelaskan untuk bisa ditetapkan sebagai satwa dilindungi harus ada penelitian yang lebih baru untuk membuktikan keterancaman Kakatua Putih.

“Penetapan Kakatua Putih sebagai satwa dilindungi bukan satu-satunya cara untuk menyelamatkan populasi Kakatua Putih. Dan dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat harus diperhitungkan sebelum menetapkan Kakatua Putih sebagai satwa dilindungi,” kata Dewi. Head of Communication & Institutional Development Burung Indonesia, Ria Saryanthi, menjelaskan Burung Indonesia merencanakan pencacahan populasi Kakatua Putih di Maluku Utara pada 2008. “Diharapkan, pada akhir 2008 kita sudah bisa memiliki data terbaru populasi Kakatua Putih,” kata Ria.

Sumber: Kompas
.

The truth about the parrot trade:

Parrots for pets? Large number of parrots (psittacines group) are already looking for new homes. Parrot buyers or owners are not always fully aware of the long term commitment and the time they need to give. Very little thought is given to the process of bringing parrots into pet markets.

Smuggled lorys in cramped cages – only 60% survive

Our lengthy investigation about illegal parrot trappers in Maluku exposed that parrots are trapped using thick gum, netting or snares. Once the parrots are caught, they are pinned down and their sensitive flight feathers, which have nerve endings, are plucked whilst they are still alive! This is extremely painful and cruel and renders the parrots unable to fly – flightless parrots are more saleable as pets. Trappers sell these parrots to the dealers who stuff them in crammed cages and smuggle them to the illegal wildlife markets. The journey from the source to the destination markets is extremely long and traumatising for parrots. Not surprisingly, once they reach the “markets” only 60% of those that have been captured survive.

In some developing countries, animal welfare is unheard of. Parrots are bought as “exotic pets” or “trophies” and are mostly confined to very small cages or chained to their perches. Many are given an unsuitable diet for their digestion system, no room to move, no natural stimulation or veterinary care. Often they are forgotten by busy owners and spend the rest of their shortened lives confined in small cages. Captive parrots are not able to express their natural behaviour; many developing long-term stress and behavioural problems which result in the sensitive birds plucking their feathers out or even self mutilation.

Parrot species are trapped, smuggled and exported to “bird markets” in Java, including Jakarta and internationally, to North America, Europe, Middle East, Pakistan, Japan, Taiwan, etc. Traders use forged documents to disguise sources. The fact is that most parrots from these sources are trapped in the wild. It is extremely unlikely these parrots are “captive bred” no matter what the trader says.

Each year we estimate there are more than 100,000 parrots caught from the wild to supply the domestic and global “pet” markets. They are bought and sold with no regard for the dwindling numbers left in the wild. Little do people realise the sheer cruelty behind the trapping, hunting and smuggling processes. For every 100 parrots trapped, at least 40 die because of extreme stress, injuries, wing mutilation and trauma.

Indonesia has some of the most beautiful parrot species in the world. North Indonesian regions such as the Maluku (Moluccas) group of islands, Papua, Seram, Ambon and Sumba, are home to different species of cockatoos, colourful lories and birds of paradise. Many are already listed as highly endangered in CITES Appendix I (species threatened with extinction by the trade), such as sulphur crested, goffin, lesser sulphur crested, citron crested cockatoo (Cacatua sulphurea citrinocristata), and other cockatoo groups.

Sampingan

Welcome to the IPPL – The Indonesian Parrot Protection for Life. IPPL is a non-profit organization dedicated to the preservation and protection of parrots and their habitat. We believe that preservation of parrots in the wild is more important and … Baca lebih lanjut

Beri peringkat: