Category Archives: Parrot Smuggling

Bird Market Still Many trading Wildlife

Pasar Burung Masih Banyak Perdagangkan Satwa Dilindungi

FOTO: Yoppy H/Burung Indonesia
Kakatua maluku (Cacatua moluccensis)

Perdagangan satwa langka yang dilindungi undang-undang ternyata masih tinggi. Survei terakhir ProFauna Indonesia dengan dukungan dari World Animal Net (WAN) yang dilakukan di 70 pasar burung di Jawa pada bulan Mei-Juli 2009 menemukan ada 183 ekor satwa dilindungi yang diperdagangkan. Satwa malang tersebut antara lain kukang (Nycticebus coucang), lutung jawa (Trachypithecus auratus), tarsius (Tarsius bancanus), nuri kepala hitam (Lorius lory), kakatua seram (Cacatua moluccensis), elang hitam (Ictinaetus malayensis), dan rangkong badak (Buceros rhinoceros).

Dari 70 pasar burung atau lokasi yang dikunjungi di 58 kota tersebut, ada 14 pasar burung yang memperdagangkan burung nuri dan kakatua, 21 pasar memperdagangkan primata, 11 pasar memperdagangkan mamalia, dan 13 pasar memperdagangkan raptor (burung pemangsa). Selain itu tercatat ada 11 pasar yang memperdagangkan jenis burung berkicau yang dilindungi. Burung berkicau yang dilindungi yang diperdagangkan itu adalah jenis jalak putih (Sturnus melanopterus) dan burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis).

Provinsi yang paling banyak memperdagangkan satwa dilindungi adalah Jawa Timur. Sementara itu, pasar yang paling banyak memperdagangkan jenis-jenis satwa dilindungi adalah Pasar Burung Depok di Kota Solo, Jawa Tengah. Urutan berikutnya adalah Ambarawa.

Perdagangan satwa dilindungi di pasar-pasar burung besar seperti di Surabaya, Semarang, dan Jakarta terjadi secara sembunyi-sembunyi. Satwa langka tersebut tidak dipajang secara terbuka, namun disembunyikan di gudang atau rumah pedagang.

Kota yang paling banyak memperdagangkan burung nuri dan kakatua adalah Semarang, sedangkan yang paling banyak memperdagangkan primata adalah pasar burung Pramuka di Jakarta dan pasar Mantingan di Ngawi, Jawa Timur.

Harga satwa yang diperdagangkan di pasar burung sangatlah bervariasi, tergantung pada umur satwa, jenis satwa, status perlindungan, ketersediaan barang, dan calon pembeli. Untuk jenis-jenis mamalia, primata serta burung-burung raptor semakin muda umurnya semakin mahal pula harganya.

Tarsius yang merupakan primata kecil dijual seharga Rp 500 ribu, sedangkan lutung jawa seharga Rp 200 ribu. Kukang biasa ditawarkan seharga Rp 75 ribu-250 ribu per ekor. Sedangkan harga burung kakatua jauh lebih mahal yaitu antara Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta.

Penegakan hukum lemah

Masih tingginya perdagangan satwa dilindungi di pasar-pasar burung itu dikarenakan masih lemahnya penegakan hukum. ”Seharusnya pedagang satwa dilindungi itu ditindak tegas karena melanggar hukum dan mengancam kelestarian satwa di alam,” kata R. Tri Prayudhi, campaign officer ProFauna. Menurut UU nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan satwa dilindungi bisa dikenakan ancaman hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Temuan ProFauna tentang perdagangan satwa dilindungi di pasar-pasar burung tersebut diharapkan bisa mendorong pemerintah untuk melakukan kontrol yang lebih ketat terhadap perdagangan satwa liar. Penegakan hukum terbukti efektif meredam perdagangan satwa dilindungi di beberapa daerah. Jika perdagangan satwa langka itu dibiarkan terus berlangsung, dikhawatirkan akan semakin banyak satwa Indonesia yang masuk dalam kategori terancam punah. (Praminto Moehayat/Burung Indonesia)

Sumber Burung Indonesia

Iklan

Nuri & Kakatua Terancam Punah

Bangsa Indonesia tidaklah pernah bersyukur atas Kekayaan alam yang melimpah ruah di seantero jagat negeri yang bernama INDONESIA, Kekayaannya hanya dijual eceran, diburu, ditembak, dan diselundupkan, bahkan terbunuh dengan kejam tanpa makna.

Inilah namanya perusakan alam. Bukankah tuhan melarang yang namanya membuat kerusakan di muka bumi.

coba lihatlah kekeyakan jenis dari burung paruh bengkok (baca nuri dan kakatua) yang terus ditangkap dan di buru untuk diperdagangkan

Perburuan Liar Ancam Populasi Kakatua Seram

Minggu, 4 Januari 2009 | 07:34 WIB

MASOHI, MINGGU – Populasi burung kakatua Seram (Cacatua moluccensis) di Taman Nasional Manusela terus menurun akibat perburuan liar. Satwa endemik di Pulau Seram, Provinsi Maluku itu diperkirakan tinggal 400 ekor dari 1.000 ekor pada akhir 1990-an. Kakatua berbulu putih dengan jambul oranye ini dijual ke Ambon, Bali dan Jakarta.

Perburuan liar juga mengancam satwa liar lainnya seperti nuri raja ( Alisterus amboinensis), nuri kepala hitam (Lorius domicella), rusa ( Cervus timorensis moluccensis) dan kasuari (Casuarius casuarius).

Supriyanto, Kepala Balai Taman Nasional Manusela menjelaskan, perburuan liar merupakan ancaman utama bagi kakatua Seram. Para pemburu sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi. Mereka menggunakan alat-alat berburu tradisional seperti jerat dan jebakan burung. “Perburuan kakatua masih banyak dilakukan di desa-desa terpencil. Para pemburu biasanya berjalan kaki 3 hingga 4 hari untuk berburu,” ujar Supriyanto.

Berdasarkan penelusuran di Ambon, kakatua Seram biasa dijual sekitar Rp 500 ribu per ekor. Kakatua dibawa ke Ambon dengan menumpang kapal-kapal pelayaran rakyat yang sandar di pe labuhan Slamet Riyadi. Pengawasan terhadap perdagangan satwa liar di Ambon oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam masih sangat longgar. Masyarakat leluasa membawa satwa dilindungi itu tanpa halangan petugas.

Perburuan liar, lanjut Supriyanto, terus menurunkan populasi burung endemik Pulau Seram itu. Saat ini, hanya ada sekitar 400 ekor kakatua Seram yang tersebar di Sawai, Masihulan dan Wahai. Populasi di sekitar lokasi ekowisata Teluk Sawai dan Masihulan diperkirakan sekitar 100 ekor.

Populasi kakatua di lokasi itu relatif terjaga karena ada Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) yang melibatkan peran masyarakat lokal. Satwa liar yang berhasil diselamatkan dari perburuan maupun perdagangan liar direhabilitasi di PRS sebelum dilepas ke habitat aslinya.

PRS, lanjut Supriyanto, mempekerjakan para mantan pemburu satwa sebagai karyawan. Mereka kini menjadi pelindungi hutan yang menjadi habitat satwa liar. Kegiatan itu mampu menekan perburuan satwa liar yang sempat marak di Sawai dan Masihulan. Masyarakat di sekitar Sawai dan Masihulan juga dibina untuk mengelola desa ekowisata.

Kegiatan andalan adalah pengamatan burung dari menara setinggi 25 meter, pendakian, penelusuran goa dan menyelam. Di teluk Sawai yang jernih dengan terumbu karang yang indah juga ada penginapan terapung untuk para wisatawan.

“Kita berusaha mengembangan ekowisata ini supaya masyarakat memperoleh penghasilan sehingga meninggalkan perburuan satwa l iar. Saat ini, kunjungan wisata masih sedikit, sekitar 150 turis asing setiap tahun,” ujar Supriyanto.

Taman Nasional Manusela ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 281/Kpts-IV/1997. Kawasan konservasi seluas 189.000 hektar ini merupakan gabungan Cagar Alam Wai Nua dan Cagar Alam Wai Mual. Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati 241 jenis pohon, 120 jenis paku-pakuan, 100 jenis lumut, 96 jenis anggrek, 196 jenis aves, 24 mamalia, 200 jenis kumbang, 90 jenis kupu-kupu 46 jenis reptil , 19 jenis ikan air tawar dan 8 jenis ampibi.

Sumber: Kompas

Ribuan Nuri dan Kakatua Diselundupkan ke Filipina

Kamis, 22 Mei 2008 | 17:16 WIB

JAKARTA, KAMIS – Setiap tahun, sekitar 10.000 ekor burung langka jenis paruh bengkok, antara lain nuri dan kakatua, diselundupkan ke Filipina. Burung-burung tersebut diduga ditangkap dari kawasan Halmahera Utara dan Sulawesi Utara, Provinsi Maluku Utara.

“Sekitar 41 persen burung yang ditangkap dari Halmahera diselundupkan ke Filipina lewat perdagangan di tengah laut, dengan perahu nelayan dan kapal boat pribadi,” kata R Tri Prayudhi, seorang penggiat LSM lingkungan ProFauna Indonesia di Jakarta, Kamis (22/5) siang. Data tersebut diungkapkan dalam laporan investigasi terbaru berjudul “Pirated Parrot”, yang menginvestigasi perdagangan burung paruh bengkok di Kepulauan Talaud, Halmahera Utara, dan Filipina pada periode Juni-September 2007.

Menurut temuan ProFauna, burung-burung paruh bengkok Indonesia terutama yang berasal dari Pulau Halmahera, Maluku Utara, banyak diselundupkan ke Filipina lewat pelabuhan di Desa Pelita, Kecamatan Galela, Halmahera Utara. Jenis burung yang paling sering diselundupkan ke Filipina yakni kakatua putih (Cacatua alba), kesturi Ternate (Lorius garrulus), bayan (Eclectus roratus), dan nuri kalung ungu (Eos squamata).

“Penyelundupan burung paruh bengkok ke Filipina ini melanggar ketentuan CITES (Konvensi Internasional tentang Perdagangan Spesies Terancam Punah), yang telah diratifikasi Indonesia sejak 1978,” katanya. Semua jenis burung paruh bengkok adalah spesies yang termasuk dalam appendix II, yang boleh diperdagangkan asalkan spesies itu hasil penangkaran alias bukan hasil tangkapan langsung dari alam.

Pada kenyataannya, penangkapan masih saja terjadi, dan Departemen Kehutanan pun masih mengizinkan kuota tangkap. ProFauna mencatat, di tingkat penangkap, burung bayan dihargai Rp60.000 per ekor. Saat dijual di Surabaya, harganya menjadi Rp600.000, dan ketika sampai di Filipina dijual dengan harga Rp1 juta.

“Bila kita hitung 10.000 burung diselundupkan ke Filipina semua dengan harga 1 juta rupiah, maka negara Indonesia dirugikan 10 miliar rupiah per tahun,” kata Tri.

Sumber: <a href=" “>Kompas
.
Populasi Kakatua Putih Terancam Punah

Selasa, 8 April 2008 | 21:47 WIB

TERNATE, SELASA – Maraknya perdagangan Burung Kakatua Putih (Cacatua alba) mengancam kelestarian burung endemik Provinsi Maluku Utara itu. Sejak tahun 2002, sedikitnya 3.300 ekor Kakatua Putih yang ditangkap dari habitan liarnya di Pulau Halmahera untuk diperdagangkan. Kakatua Putih diperdagangkan di sejumlah pasar burung di Jakarta, Surabaya, dan Filipina.

Hal itu disampaikan Parrot Campaign Officer ProFauna Indonesia, R Tri Prayudhi, dalam Rapat Kerja Upaya Perlindungan Burung Kakatua Putih di Ternate, Selasa (8/4). “Selain terancam punah karena maraknya perdagangan satwa liar, Kakatua Putih juga terancam oleh degradasi hutan hutan. Baik pembukaan hutan untuk pertanian maupun kegiatan pertambangan,” kata Tri.

Kakatua Putih adalah burung endemik, hanya ditemukan di Pulau Halmahera, Bacan, Ternate, Tidore, Kasiruta, dan Mandiole. Menurut Tri, pada 1980 luasan hutan di keenam pulau tersebut masih 90 persen dari luas daratannya.
“Saat ini, luasan hutan tinggal 59 persen dari total luas daratan. Jumlah populasi total Kakatua Putih di keenam pulau itu pada tahun 1992 diperkirakan antara 42.545 – 183.129 ekor,” kata Tri.

Selain menjadi habitat Kakatua Putih, Maluku Utara juga menjadi habitat dari sejumlah burung paruh bengkok yang sebarannya terbatas. Burung paruh bengkok yang sebarannya terbatas dan memiliki habitat di Maluku Utara itu antara lain Nuri Kalung Ungu (Eos squamata), Bayan (Eclectus roratus), dan Kasturi Ternate (Lorius garulus).
Perburuan untuk perdagangan Kakatua Putih, Nuri Kalung Ungu, Bayan, dan Kasturi Ternate paling marak terjadi di Kabupaten Halmahera Utara.

“Di Tobelo, Halmahera Utara, terdapat penampung burung paruh bengkok yang ditangkap dengan jaring atau getah. Setelah ditangkap, Kakatua Putih biasanya dicuci dengan sabun detergen, sehingga bulunya benar-benar putih. Setelah itu diperdagangkan,” kata Tri.

Dari investigasi perdagangan satwa liar ProFauna dan RSPCA pada tahun 2007, ditemukan 9.760 burung paruh bengkok yang diperdagangkan di Jakarta, Surabaya, dan Filiphina. “Di Jakarta, burung paruh bengkok diperdagangkan di Pasar Burung Pramuka, Pasar Burung Barito, dan Pasar Burung Jatinegara. Di Surabaya burung paruh bengkok diperdagangkan di Pasar Turi, Pasar Bratang, dan Pasar Kupang. Sekitar 4.000 burung paruh bengkok diperdagangkan ke Filipina, dibawa keluar Indonesia melalui Tobelo dan Sanger,” kata Tri.

Dari investasi yang sama, diketahui bahwa permintaan Kakatua Putih di sejumlah pasar burung di Jawa dan Bali semakin meningkat. “Pada tahun 2006, permintaan burung Kakatua Putih hanya mencapai 108 ekor. Tahun 2007, jumlah permintaan burung di pasar yang sama naik menjadi 120 ekor. Kuota penangkapan Kakatua Putih yang ditetapkan pemerintah tidak efektif, sementara permintaan pasar terus meningkat. Itu mengapa Kakatua Putih harus ditetapkan sebagai satwa dilindungi,” kata Tri.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate, Ir Suryati Tjokrodiningrat MSi, berpendapat perburuan Kakatua Putih terjadi karena ada permintaan dari pasar. “Pemerintah pernah menetapkan kuota penangkapan 10 ekor indukan untuk penangkaran, akan tetapi perburuan tetap terjadi. Jika perburuan liar tetap terjadi, berarti penangkaran gagal.

Jika burung itu bisa ditangkarkan oleh masyarakat, tentunya ini justru bisa menjadi potensi pendapatan bagi masyarakat yang mau menangkarkannya. Selama persoalan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat tidak terjawab, maka permintaan pasar akan Kakatua Putih pasti memicu perburuan liar,” kata Suryati.
Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga peneliti burung pemangsa, Dewi M Prawiradilaga, menjelaskan untuk bisa ditetapkan sebagai satwa dilindungi harus ada penelitian yang lebih baru untuk membuktikan keterancaman Kakatua Putih.

“Penetapan Kakatua Putih sebagai satwa dilindungi bukan satu-satunya cara untuk menyelamatkan populasi Kakatua Putih. Dan dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat harus diperhitungkan sebelum menetapkan Kakatua Putih sebagai satwa dilindungi,” kata Dewi. Head of Communication & Institutional Development Burung Indonesia, Ria Saryanthi, menjelaskan Burung Indonesia merencanakan pencacahan populasi Kakatua Putih di Maluku Utara pada 2008. “Diharapkan, pada akhir 2008 kita sudah bisa memiliki data terbaru populasi Kakatua Putih,” kata Ria.

Sumber: Kompas
.

The truth about the parrot trade:

Parrots for pets? Large number of parrots (psittacines group) are already looking for new homes. Parrot buyers or owners are not always fully aware of the long term commitment and the time they need to give. Very little thought is given to the process of bringing parrots into pet markets.

Smuggled lorys in cramped cages – only 60% survive

Our lengthy investigation about illegal parrot trappers in Maluku exposed that parrots are trapped using thick gum, netting or snares. Once the parrots are caught, they are pinned down and their sensitive flight feathers, which have nerve endings, are plucked whilst they are still alive! This is extremely painful and cruel and renders the parrots unable to fly – flightless parrots are more saleable as pets. Trappers sell these parrots to the dealers who stuff them in crammed cages and smuggle them to the illegal wildlife markets. The journey from the source to the destination markets is extremely long and traumatising for parrots. Not surprisingly, once they reach the “markets” only 60% of those that have been captured survive.

In some developing countries, animal welfare is unheard of. Parrots are bought as “exotic pets” or “trophies” and are mostly confined to very small cages or chained to their perches. Many are given an unsuitable diet for their digestion system, no room to move, no natural stimulation or veterinary care. Often they are forgotten by busy owners and spend the rest of their shortened lives confined in small cages. Captive parrots are not able to express their natural behaviour; many developing long-term stress and behavioural problems which result in the sensitive birds plucking their feathers out or even self mutilation.

Parrot species are trapped, smuggled and exported to “bird markets” in Java, including Jakarta and internationally, to North America, Europe, Middle East, Pakistan, Japan, Taiwan, etc. Traders use forged documents to disguise sources. The fact is that most parrots from these sources are trapped in the wild. It is extremely unlikely these parrots are “captive bred” no matter what the trader says.

Each year we estimate there are more than 100,000 parrots caught from the wild to supply the domestic and global “pet” markets. They are bought and sold with no regard for the dwindling numbers left in the wild. Little do people realise the sheer cruelty behind the trapping, hunting and smuggling processes. For every 100 parrots trapped, at least 40 die because of extreme stress, injuries, wing mutilation and trauma.

Indonesia has some of the most beautiful parrot species in the world. North Indonesian regions such as the Maluku (Moluccas) group of islands, Papua, Seram, Ambon and Sumba, are home to different species of cockatoos, colourful lories and birds of paradise. Many are already listed as highly endangered in CITES Appendix I (species threatened with extinction by the trade), such as sulphur crested, goffin, lesser sulphur crested, citron crested cockatoo (Cacatua sulphurea citrinocristata), and other cockatoo groups.

Warga Arab Saudi Tertangkap Menyelundupakan Satwa Liar di bandara Soekarno Hatta

SIARAN PERS : FORUM SATWA LIAR
MARAKNYA PENYELUNDUPAN SATWA DARI INDONESIA

Jakarta, Selasa,10 Maret 2008, maraknya penyelundupan satwa dari Indonesia ke negara-negara lain masih terjadi hal ini dibuktikan dengan digagalkannya  upaya  penyelundupan satwa pada Minggu,  08 Maret 2009,  di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta,  Oleh petugas Bea dan Cukai, Bandara Soekarno Hatta, berekerja sama dengan Forum Satwa Liar Jakarta yang terdiri dari Wildlife Conservation Society, Jakarta Animal Aid Network, Lembaga Advokasi Satwa, IAR dan Profauna, yang rencananya satwa  tersebut akan diselundupkan dengan menggunakan pesawat Saudi Arabian Airlines SV-820, Daman-Riyad.

Ada pun jenis satwa yang akan diselundupkan dalam 4 buah koper dan tas adalah:
Kukang ( Nycticebus coucang ), sebanyak 3 ekor;
Nuri merah kepala hitam ( Lorius lory), sebanyak 1 ekor
Burung Punai, sebanyak 8 ekor
Kakatua maluku ( Cacatua moluccensis ), sebanyak 1 ekor
Kakatua tanibar (Cacatua gofini), sebanyak 1 ekor
Burung Beo (Gracula religiosa),  sebanyak 16 ekor
Nuri hijau, sebanyak 1 ekor
Nuri merah, sebanyak 1 ekor
Kakatua putih (Cacatua alba), sebanyak 1 ekor

Dengan tiga orang tersangka pemegang paspor warga negara  Arab Saudi : AB, E, dan SA. Ketiga tersangka merupakan keluarga Bapak, Ibu dan Anak , menggunakan motif sebagai keluarga yang akan puang ke negaranya. Tersangka diduga melakukan tindak pidana:

Setiap orang dilarang untuk mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat  di Indonesia ke tempat lain di dalam atau diluar Indonesia sebagaimana diatur dalam UU. No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang tercantum dalam pasal 21 ayat (2) huruf c, diancam dengan pidana penjara paling 5 tahun dan denda Rp.100.000.000,- ( Seratus Juta rupiah ).

Barang bukti kasus dugaan penyelundupan telah diserah terimakan ke BKSDA DKI  Jakarta atas nama polisi kehutanan Dendi Sutiadi, dengan disaksikan 1 petugas Karantina Bandara Soekarno Hatta. Tersangka kasus ini tidak ditahan dikarenakan dijamin oleh pihak Kedutaan yang bersangkutan

Dwi Nugroho dari WCS ( Wildlife Conservation Society ) menegaskan: “Upaya petugas Bea dan Cukai bandara Soekarno Hatta, adalah bentuk keseriusan dalam memberatas penyelundupan  keaneka ragaman jenis hayati, harapannya tersangka pelaku kejahatan ini dapat di hukum seberat-beratnya sesuai UU yang berlaku. Dunia internasional saat ini melihat keseriusan Indonesia dalam melakukan penegakan hukum, ini dapat menjadi preseden buruk apabila tersangka tidak di hukum maksimal.”

Pramudya Harzani dari JAAN ( Jakarta Animal Aid Network ) menegaskan: “JAAN mendesak kepada pihak terkait agar Penyelundupan terhadap keaneka ragaman hayati harus ditindak tegas sesuai dengan UU yang berlaku, pelaku kejahatan ini harus mendapatkan hukuman maksimal karena ini merugikan negara. BKSDA DKI Jakarta sebagai pihak yang diserahkan kasusnya harus dapat menyelesaikan kasus ini hingga tersangka dapat diadili di pengadilan. Kasus ini membuktikan bahwa DKI Jakarta masih merupakan tempat perdagangan satwa illegal Internasional, dan ini harus diberantas ”

Irma dari LASA ( Lembaga Avokasi Satwa ) Menegaskan : “Penindakan tegas terhadap para penyelundup satwa adalah keharusan karena ini melanggal UU yang berlaku, para pelanggar UU ini seharusnya tidak dibeda-bedakan apakah itu WNI atau WNA demi keadilan, seharusnya tersangka dapat ditahan dikarenakan berdasarkan pengalaman kami, pelaku yang tidak ditahan dapat melarikan diri. Tidak ada tawar menawar bahwa tindak pidana kejahatan terhadap satwa diancam pidana penjara maksimal 5 tahun dan amanah KUHAP membenarkan hal itu”

Zulham dari IAR (International Animal Rescue) menegaskan :“IAR Indonesia mendukung upaya pihak yang terkait untuk  mengungkap tuntas pelaku kejahatan satwa liar.dengan adanya pengusutan kasus ini maka dapat mengurangi hingga memberhetikan perdagangan dan perburuan serta tekanan terhadap populasi satwa liar Indonesia.hal ini dapat menjadi preseden yang buruk bagi Indonesia dimata Internasional apabila tidak dapat menuntaskan kasus ini ”.

Tri Prayudhi ( ProFauna) Menegaskan: hasil Investigasi ProFauna Tahun 2007-2008, bahwa ada sekitar 10.000 ekor burung Nuri dan Kakatua yang di tangkap dari Maluku Utara dan Papua untuk diperdagangkan, 41 % diselundupakan ke Philipina dan 69 % diperdagangkan di tingkat lokal. ProFauna meminta  agar BKSDA DKI Jakarta dapat menuntaskan kasus ini, tersangka kasus penyelundupan ini harus diproses sesuai hukum yang berlaku, dan petugas dapat segera mengusut hingga ke sumbernya”

MAFIA PERDAGANGAN BURUNG NURI DAN KAKATUA ASAL PAPUA DIGREBEK POLDA JATIM

Polda Jatim Sita 40 Burung Nuri

Jumat, 08 Mei 2009 07:40 WIB

Jumat, 08 Mei 2009 07:40 WIB
SURABAYA–MI: ProFauna Indonesia dan Polda Jawa Timur menyita 40 ekor burung nuri dan kakatua dari sindikat perdagangan satwa ilegal di kawasan Nginden, Semampir Barat, Surabaya, Kamis (7/5) malam.

“Ya, kami menangkap seorang mafia yang sudah lama menjadi target operasi yakni Supri alias Subairi. Yang jelas, mafia itu sulit ditangkap, karena rencana operasi selalu bocor,” kata juru kampanye ProFauna, R Tri Prayudhi

Dalam operasi itu, ProFauna Indonesia yang berkantor pusat di Malang, Jawa Timur telah mengerahkan lima anggota yang dipimpinnya dengan dukungan tim Polda Jatim yang dipimpin Kompol Heru.

“Kami akan menjerat pelaku dengan UU Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menghukum pelakunya dengan lima tahun penjara dan denda Rp100 juta,” katanya.

Laporan ProFauna pada tahun 2007-2008 mencatat Surabaya merupakan “pintu” perdagangan nuri dan kakatua yang ditangkap dari alam Maluku Utara dan Papua untuk diperdagangkan secara domestik dan diselundupkan ke pasar internasional. “Selama tahun 2008, sekitar 1.000 ekor nuri dan kakatua diperdagangkan di pasar domestik dan diseludupkan ke Filipina. Perdagangan burung nuri dan kakatua di tingkat domestik berpusat di Kota Surabaya, seperti Pasar Burung Bratang, Pasar Turi, dan Pasar Kupang,” katanya.

Jenis burung yang biasa diperdagangkan di Surabaya adalah kakatua besar jambul kuning (Cacatua galerita), kakatua tanimbar (Cacatua goffini), kakatua seram (Cacatua molluccensis), nuri kepala hitam (Lorius lory), dan jenis lainnya.

“Di balik perdagangan burung Nuri dan Kakatua itu, sekitar 40 persen burung-burung itu mati akibat stres, apalagi sistem penangkapannya sangat buruk,” kata Tri Prayudhi.  (Ant/OL-03)

Polres Aru Gagalkan Penyelundupan 101 SATWA LIAR !

Kapolda Jatim Irjen .Anton Bachrul alam @ 2009

POLRES ARU GAGALKAN PENYELUNDUPAN SATWA


Polres Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, menggagalkan penyelundupan sebanyak 101 binatang dilindungi yang akan dibawa ke luar daerah itu dari pelabuhan Dobo, ibukota Kabupaten setempat pada 4 September. Kapolres Kepulauan Aru AKBP Solihin ketika dikonfirmasi, Jumat, membenarkan digagalkannya penyelundupan hewan-hewan tersebut.

Menurut Solihin, hewan yang akan diselundupkan tersebut terdiri atas 58 kanguru, 18 burung kakatua jambul kuning, 12 kakatua jambul biru, 11 kakatua jambul putih, dan dua ekor kakatua jambul hitam. “Hewan tersebut diamankan diatas kapal PT Pelni KM Abdi Sejahtera yang biasanya berlayar tujuan Surabaya – Jakarta,” ujarnya.

Kapolres mengatakan seseorang bernama “AB”, yang menjadi orang suruhan seseorang lain yang dicurigai menjadi oknum penyelundupan hewan tersebut sudah dimintai keterangan.

Tapi polisi belum mengungkapkan nama orang yang diduga menyuruh AB. Orang itu diduga sudah sering melakukan perbuatan tersebut. “101 binatang tersebut telah diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam Dobo untuk selanjutnya dikembalikan ke habitatnya agar tidak terancam punah karena merupakan hewan dilindungi,” kata Kapolres.

Dia mengakui aksi penyelundupan binatang kali ini termasuk terbesar jumlahnya dibanding sebelumnya. Biasanya, penyelundupan hewan dilindungi hanya satu atau dua ekor dengan maksud sebagai cinderamata dari Kepulauan Aru. “Jenis binatang tertentu bisa `keluar` dari Dobo dengan konsekuensi harus memiliki surat ijin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam setempat,” ujar Kapolres.

Kepulauan Aru yang kaya sumber daya hayati laut, terutama ikan di Laut Arafura juga merupakan “surga” pencurian hewan dilindungi. Sejumlah pulau di Kepulauan Aru juga dikenal sebagai tempat pencurian penyu, seperti di dua pulau terluar yang berbatasan dengan Australia, yakni pulau Enu dan Karang. (Ant)

Sampingan

Welcome to the IPPL – The Indonesian Parrot Protection for Life. IPPL is a non-profit organization dedicated to the preservation and protection of parrots and their habitat. We believe that preservation of parrots in the wild is more important and … Baca lebih lanjut

Beri peringkat: