ALASAN KENAPA SATWA LIAR LEBIH INDAH DI ALAM

ALASAN KENAPA SATWA LIAR LEBIH INDAH DI ALAM

Di negara maju  telah ada aturan hukum mengenai perlindungan satwa dan secara tegas menolak satwa liar dijadikan sebagai bintang peliharaan.

Dan hal ini diberlakukan baik untuk jenis satwa asli ( negaranya ) maupun jenis satwa dari luar (negaranya), baik ditangkap di alam bebas maupun yang dikembangbiakan di penangkaran. Mayoritas orang-orang yang memperoleh satwa-satwa ini tidak mampu menyediakan habitat yang dibutuhkan satwa liar .

Bagaimana di negara anda? berbagi saja cerita tentang negara saya  ( Indonesia ) yang ternyata satwa liar itu biasa di pelihara di rumah.

“ah..yang benar si….?” Kalau negara maju sudah memiliki aturan hukum, di Indonesia-pun sudah ada aturan hukum yang melarang memelihara satwa liar dilindungi untuk dipelihara.

lalu bagaimana dengan satwa liar yang tidak dilindungi ? sudah ada juga namun tidak jelas aturan hukumnya ada juga aturan hukum tentang kesehatan hewan dan kesejahteraan satwa, namun permasalahan saat ini bukan sekedar aturan hukum saja.

Masalah yang belum terjawab karena penegakkan hukum masih setengah hati dan edukasi dalam sistem pendidikan kita tak pernah mengajarkan tentang rasa kepedulian dan rasa bangga terhadap kekayaan biodiversity Indonesia .

Apakah Memelihara Satwa Liar itu Menyulitkan atau Malah Mustahil?

Terlepas dari apa yang dikatakan pedagang satwa, pemeliharan layak untuk satwa liar sangat membutuhkan keahlian, fasilitas yang khusus/spesial, dan dedikasi dalam jangka waktu panjang untuk satwa tersebut. Nutrisi dan kebutuhan sosial mereka harus dipenuhi.

Dan dalam banyak kasus, kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak diketahui oleh orang umum. Kebanyakan \satwa-satwa liar ini tumbuh menjadi lebih besar, lebih kuat, dan lebih berbahaya dari yang diharapkan / dapat ditangani pemiliknya.

Kucing hutan kecil seperti Ocelot dan Bobcat sangat berbahaya, layaknya singa dan harimau bagi anak-anak. Satwa liar juga bisa ambil bagian dalam membahayakan kesehatan dan keamanan manusia lewat penyebaran penyakit dan parasit.

Bayi Satwa bisa Tumbuh Besar dan Kuat

Bayi satwa bisa sangat mengemaskan—sampai bayi lucu itu menjadi besar dan kuat tanpa pernah terpikirkan oleh pemilik. Sikap ketergantungan anak satwa akan digantikan oleh insting satwa dewasa yaitu menggigit, mencakar, atau menunjukkan perangai merusak tanpa ada provokasi (sebab) atau peringatan, yang merupakan perilaku satwa yang memang mereka butuhkan untuk bertahan hidup di habitat aslinya.

Satwa-satwa ini menjadi terlalu sulit untuk ditangani dan pada akhirnya akan dikurung di dalam kandang-kandang kecil, dan diedarkan dari pemilik satu ke pemilik yang lain, atau dalam arti lain, dibuang. Tidak banyak cagar alam yang memiliki reputasi/fasilitas yang dapat memelihara satwa liar ybuangan dengan baik. Pada akhirnya mereka bisa kembali lagi ke perdagangan satwa-satwa eksotis .

Beberapa mungkin dikembalikan ke alam bebas yang apabila mereka tetap hidup, mereka dapat menggangu ekosistem setempat/lokal.

Satwa Liar Menyebarkan Penyakit

Lingkungan manusia yang sangat rentan Berbeda dengan lingkungan binatang, tempat tinggal manusia adalah lingkungan buatan yang diproteksi dengan sangat ketat. Dari sejak lahir bayi manusia sudah mendapat proteksi dari lingkungannya.

Anak-anak di kota besar umumnya lahir di rumah sakit dalam ruangan bebas hama. Mereka mendapat perlakuan standard perawatan umum yang intinya menjaga agar anak tidak mudah mendapat infeksi atau tertular penyakit.

Dalam periode tertentu mendapat imunisasi dan pemeriksaan kesehatan rutin. Untuk pertumbuhannya, bayi mendapat tambahan nutrisi dan vitamin selain ASI.

Pendek kata, seorang bayi manusia lahir penuh dengan perlindungan yang amat lengkap. Demikian juga dengan tempat tinggal manusia. Manusia hidup dalam lingkungan yang sengaja menjauh dari kompetisi alam. Dari sejak lahir manusia sudah hidup dalam rumah, bahkan dalam ruangan yang terlindung yang bersih dan nyaman.

Dalam sejarah manusia, entah mulai kapan manusia sudah melindungi diri dengan membuat lingkungan hidupnya terhindar dari hujan lebat, panas terik matahari, kencangnya angin malam, atau serangan wabah penyakit. Manusia menyiapkan dirinya untuk jauh dari alam.

Kenyataan itu sebenarnya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sebenarnya manusia tidak siap untuk hidup di alam bebas. Manusia dari sejak awal sudah diajarkan membentengi dirinya dalam menghadapi ancaman yang datang langsung dari alam.

Berbeda dengan satwa liar yang dari lahir hingga besar memang selalu menghadapi ancaman. Hanya yang kuat menghadapi ancaman yang bisa bertahan hidup dan mengembangkan dirinya. Benteng perlindungan lingkungan hidup manusia di satu sisi memang sangat kuat dan kokoh, tetapi di sisi lain sangat rapuh dan rentan.

Ketika muncul suatu substansi yang bisa menjadi penyakit yang sebelumnya belum pernah dikenal dan tiba-tiba masuk dalam kehidupan manusia, entah dari mana datangnya, penyebab penyakit yang sederhana sekalipun akan menjadi sangat mematikan, membuat kebingungan dan bencana bagi manusia. Dalam sejarah umat manusia keadaan seperti ini sudah banyak terjadi. Flu biasa pada tahun 30’an abad yang lalu menjadi wabah besar yang merenggut nyawa jutaan orang seluruh dunia.

HIV AIDS yang mengerikan dan Flue burung, adalah salah satu dari berbagai penyakit yang menyerang manusia dan diduga berasal dari binatang. Penyakit infeksi umumnya datang dari binatang. Di alam binatang secara alamiah membangun anti-body yang selalu diperbarui atau dia mati tidak mampu bertahan. Demikian juga kuman penyakit akan selalu memutasikan dirinya jika tidak mampu lagi menyerang tubuh sasarannya.

Atas dasar alasan yang cukup kuat ini, kita menjawab pertanyaan, mengapa kita jangan menghadirkan satwa liar ke dalam kehidupan kita. Selain kita mungkin tidak dapat menahan serangan dari penyakit yang mungkin dibawa oleh binatang, atau juga karena bibit penyakit yang dibawa oleh binatang itu sebelumnya memang tidak pernah mengenal senjata yang belum tentu bisa mematikan dia. Bahkan jika dia akan berhadapan dengan antibiotik yang belum dikenalnya sekalipun, biasanya penyakit akan dengan mudah membangun sistem resistensi sehingga antibiotik itu tidak lagi mampu menyerangnya.

Mekanisme ini sangat rumit tetapi umumnya bisa dipahami dengan sangat mudah bagi semua orang. Itu lah sebabnya ada orang yang sangat lama sembuh dari penyakit sekadar flu meskipun dia telah menghabiskan obat antibiotik yang diberikan oleh dokter.

Mungkin ada alasan lain yang justeru kebalikan dari alasan bahwa binatang membawa penyakit untuk kita. Para ahli mengemukakan bahwa kita juga membawa penyakit untuk binatang. Beberapa waktu yang lalu dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar orangutan yang pernah dipelihara oleh manusia mendapat infeksi kuman TB (tuberculosis), kemungkinan kuman itu berasal dari manusia yang ditularkan ke orangutan.

Selain kuman tuberculosis, orangutan juga bisa tertular malaria dan hepatitis. Penelitian lebih jauh perlu dilakukan karena kita belum banyak memahami jika terjadi infeksi sebaliknya, TB, hepatitis, atau malaria dari binatang ke manusia, karena berkaitan dengan perkembangan pengobatan yang bisa dikuasai oleh manusia saat ini.

Pusat Pengontrolan Penyakit dan Pencegahannya di Amerika (CDC—The Centers for Disease and prevention) menganjurkan untuk tidak menyentuh/berkontak langsung dengan satwa-satwa liar oleh karena alasan yang mudah: mereka (satwa liar) bisa membawa penyakit yang berbahaya bagi manusia, seperti rabies, virus herpes B, dan Salmonella. Virus herpes B yang biasanya ditemukan pada monyet macaque bisa berakibat fatal bagi manusia.

Ribuan orang terinfeksi Salmonella tiap tahunnya akibat menyentuh/kontak langsung dengan satwa reptil dan satwa amfibi, yang membuat CDC menganjurkan agar satwa-satwa ini tidak dipelihara dalam rumah dengan anak berusia di bawah 5 tahun. Cacar monyet (monkeypox) mulai tersebar ketika mamalia kecil yang terjangkit diimpor melalui perdagangan satwa illegal dan menginfeksi satwa kecil seperti tupai/tikus setempat, yang juga diperjualbelikan sebagai satwa peliharaan.

Mereka harus tetap ada di habitatnya

Barangkali kita bisa membayangkan bagaimana sulitnya kuman penyakit, jika dia harus berhadapan dengan manusia. Dengan segala daya upaya manusia berusaha sangat keras untuk melawan dan membunuh penyebab penyakit. Manusia menemukan racun untuk membunuh penyakit meskipun racun itu akhirnya juga akan dapat membahayakan dirinya sendiri. Namun jika penyakit itu menyerang binatang liar, mungkin tidak akan ada interaksi yang rumit, terjadi secara alamiah, tubuh binatang akan membangun antibodi dan mekanisme pertahanan secara alamiah sampai penyebab penyakit tidak mampu bertahan lagi dan kalah.

Dalam kondisi seperti itu penyakit biasanya tidak perlu mengganas atau mewabah. Pada umumnya semua binatang yang mampu bertahan hidup mempunyai kecenderungan terinfeksi kuman penyakit. Flu burung adalah virus yang normal terdapat pada itik liar.

Mekanisme pertahanan tubuh binatang dan kemampuan hidup kuman dalam tubuh binatang menciptakan keseimbangan sehingga tidak sampai menimbulkan penyakit yang memperburuk keadaan. Beberapa kuman seperti E coli yang hidup dalam usus besar manusia adalah contoh yang jelas, yang suatu saat bisa menjadi kuman berbahaya jika tubuh manusia tidak mampu lagi menjaga keseimbangannya.

Dengan alasan itu juga bisa kita pahami mengapa binatang liar agar tetap ada dan hidup di habitatnya sendiri. Biarkan mereka tetap di dunianya. Hutan belantara. Mereka bisa tetap berinteraksi dengan kuman-kuman mereka sendiri dan sebagaimana dengan keseimbangan alam yang ada, kuman-kuman itu bisa tetap berkembang pada habitatnya di dalam tubuh satwa liar dengan baik tanpa harus mengancam kehidupan manusia.

Manusia mempunyai fungsi untuk secara aktif mengatur keseimbangan alam. Tentu saja kita tidak bisa memberikan hutan seluas lapangan bola untuk habitat orangutan. Apalagi di dalamnya ada beruang madu, ada berbagai jebis burung, dan binatang lainnya.

Atau bayangkan jika di dalam hutan ada gajah atau harimau. Wilayah jelajah harimau bisa mencapai ratusan km2. Habitat yang disediakan untuk satwa liar adalah kawasan konservasi. Kawasan konservasi yang cukup luas dalam bentuk Taman Nasional. Di dalam kawasan itu satwa liar memungkinkan untuk bergerak leluasa, berkembang biak, dan berinteraksi dengan satwa lainnya.

Di Sumatera dikenal istilah konflik satwa liar dengan manusia. Sesungguhnya satwa liar adalah korban dari konflik antar manusia. Kebutuhan manusia akan lahan tidak pernah berhenti. Dengan berdirinya pabrik kertas yang besar dan membutuhkan bahan baku yang besar pula. Banyak habitat kawasan satwa liar yang harus menjadi korban untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ketika hutan sebagai habitat satwa liar diperebutkan, satwa liar akan terdesak dan masuk ke areal pemukiman. Dengan alasan ini banyak orang membela satwa liar agar mereka mendapat perlindungan dan habitat yang sesuai.

Satwa liar tidak bisa menolong dirinya sendiri

Salah satu alasan yang juga sulit kita terima tetapi cukup memiliki alasan yang sangat kuat adalah, bahwa satwa liar tidak mungkin bisa menolong dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia yang memiliki kesadaran dan kemampuan untuk berpikir seharusnya bisa memberi bantuan dan pertolongan untuk menyelamatkan satwa liar. Memelihara satwa liar di rumah atau di kebun binatang mungkin bisa dikatakan sebagai tindakan penyelamatan. Akan tetapi jelas tidak sebanding menyelamatkan dengan cara memelihara dalam kandang dengan menyelamatkan satwa liar di habitatnya sendiri. Satwa liar tidak perlu ditolong jika sudah ada di dalam habitatnya.

Menyelamatkan satwa liar di kebun binatang atau di rumah selain berisiko pada kesehatan, juga membutuhkan biaya yang besar. Orang selalu mengkaitkan antara penyelamatan satwa di kebun binatang dengan memperoleh uang dari mempertontonkan satwa ke masyarakat umum. Bahkan banyak sponsor yang kemudian ikut mendanai untuk membiayai ongkos pemeliharaan melalui program adopsi.

Karena biaya pemeliharaan satwa liar memang sangat mahal, maka jika disandingkan antara pendapatan dengan ongkos yang harus dikeluarkan seringkali tidak akan sebanding. Pendapatan dari mempertontonkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk pemeliharaan tidak pernah seimbang.

Oleh karena alasan itulah pemerintah DKI Jakarta harus tetap mengeluarkan subsidi untuk biaya perawatan satwa di kebun binatang Ragunan.

Akan tetapi seringkali kita mendengar bahwa bisnis jual beli satwa liar ternyata sangat menggiurkan. Bisnis ini melibatkan orang-orang yang memiliki uang banyak. Perdagangan satwa liar juga merupakan bisnis prestise karena dikaitkan dengan prestise yang disandang pembelinya.

Para kolektor satwa liar konon biasanya adalah pejabat tinggi atau pengusaha besar. Meskipun boleh saja curiga bahwa kebun binatang atau badan sejenisnya bisa menjadi penyedia satwa untuk diperdagangkan, tetapi benteng terakhir penyelatan satwa setelah habitatnya hilang memang satu-satunya adalah kebun binatang dan lembaga-lembaga lain yang serupa.

Di kebun binatang satwa liar bisa dipelihara dengan baik, bisa menjadi obyek penelitian, juga bisa menjadi obyek pertunjukkan. Pada kenyataannya semakin hari semakin banyak habitat satwa yang berkurang. Di pasar-pasar satwa semakin banyak ragam dan jenis satwa yang dijual. Ternyata jual beli satwa liar memang masih sangat ramai dan harganya pun tidak mungkin bisa dijangkau oleh masyarakat biasa.

Karena satwa liar adalah kekayaan bangsa yang dikuasai negara, boleh juga jika suatu saat satwa liar kita yang tiada duanya di seluruh dunia, dijadikan komoditas bangsa yang harganya juga tiada duanya. Tentu saja dengan melalui pertimbangan yang sangat cermat.

Seperti Cina memperlakukan Panda sebagai satwa liar tiada duanya di dunia untuk sarana diplomasi yang tentu tidak bisa ditandingi oleh bangsa lain di manapun.

Menjadi Domestik (Jinak dan Terbiasa Dipelihara Manusia) Butuh Ribuan Tahun

Satwa liar tidak menjadi jinak dan terbiasa dipelihara manusia oleh hanya karena dilahirkan di penangkaran atau dibantu pertumbuhannya oleh manusia. Berbeda dengan anjing dan kucing, yang telah menjadi domestik dengan pengembangbiakan yang terseleksi dalam ribuan tahun untuk mendapatkan sifat yang diinginkan. Satwa-satwa spesial ini (kucing atau anjing) bergantung pada manusia untuk mendapatkan makanan, tempat tinggal, perawatan dari dokter hewan, dan kasih sayang.

Sedangkan satwa-satwa liar, secara alami, tercukupi sendiri dan manusia lebih baik tidak ikut campur tangan. Perangai dari insting satwa-satwa liar ini membuat mereka tidak cocok untuk dijadikan satwa peliharaan.

Menangkap Satwa Liar Mengancam Kehidupan Mereka

Ketika satwa liar tertangkap untuk dijadikan satwa peliharaan, penderitaan mereka dimulai dari penangkapan tersebut—- setiap tahunnya ribuan unggas dan reptil telah mati dalam perjalan menuju toko satwa.

Bahkan setelah dibeli, hidup mereka biasanya dipenuhi dengan kesengsaraan. Kalaupun mereka bertahan hidup, mereka akan merana hidup dalam kandang kecil di halaman belakang atau mengitari tanpa akhir didalam kandang kecil atau akuarium. Umumnya, mereka jatuh sakit atau mati dikarenakan pemilik mereka tidak mampu menyediakan habitat yang dibutuhkan / memelihara mereka dengan tepat. Perdangangan satwa liar di dunia terus mengancam kehidupan/eksistensi dari beberapa spesies dalam habitat asli mereka.

Memiliki satwa apapun sebagai peliharaan artinya mempunyai tanggung jawab untuk menyediakan pemeliharaan dan kebutuhan satwa dengan tepat.

Dimana dalam hal satwa liar, memenuhi tanggung jawab ini biasanya mustahil. Pada akhirnya, manusia, satwa, dan lingkungan yang menanggung konsekuensinya.(oleh admin IPPL : di kutip dari bebagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s