Warga Arab Saudi Tertangkap Menyelundupakan Satwa Liar di bandara Soekarno Hatta

SIARAN PERS : FORUM SATWA LIAR
MARAKNYA PENYELUNDUPAN SATWA DARI INDONESIA

Jakarta, Selasa,10 Maret 2008, maraknya penyelundupan satwa dari Indonesia ke negara-negara lain masih terjadi hal ini dibuktikan dengan digagalkannya  upaya  penyelundupan satwa pada Minggu,  08 Maret 2009,  di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta,  Oleh petugas Bea dan Cukai, Bandara Soekarno Hatta, berekerja sama dengan Forum Satwa Liar Jakarta yang terdiri dari Wildlife Conservation Society, Jakarta Animal Aid Network, Lembaga Advokasi Satwa, IAR dan Profauna, yang rencananya satwa  tersebut akan diselundupkan dengan menggunakan pesawat Saudi Arabian Airlines SV-820, Daman-Riyad.

Ada pun jenis satwa yang akan diselundupkan dalam 4 buah koper dan tas adalah:
Kukang ( Nycticebus coucang ), sebanyak 3 ekor;
Nuri merah kepala hitam ( Lorius lory), sebanyak 1 ekor
Burung Punai, sebanyak 8 ekor
Kakatua maluku ( Cacatua moluccensis ), sebanyak 1 ekor
Kakatua tanibar (Cacatua gofini), sebanyak 1 ekor
Burung Beo (Gracula religiosa),  sebanyak 16 ekor
Nuri hijau, sebanyak 1 ekor
Nuri merah, sebanyak 1 ekor
Kakatua putih (Cacatua alba), sebanyak 1 ekor

Dengan tiga orang tersangka pemegang paspor warga negara  Arab Saudi : AB, E, dan SA. Ketiga tersangka merupakan keluarga Bapak, Ibu dan Anak , menggunakan motif sebagai keluarga yang akan puang ke negaranya. Tersangka diduga melakukan tindak pidana:

Setiap orang dilarang untuk mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat  di Indonesia ke tempat lain di dalam atau diluar Indonesia sebagaimana diatur dalam UU. No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang tercantum dalam pasal 21 ayat (2) huruf c, diancam dengan pidana penjara paling 5 tahun dan denda Rp.100.000.000,- ( Seratus Juta rupiah ).

Barang bukti kasus dugaan penyelundupan telah diserah terimakan ke BKSDA DKI  Jakarta atas nama polisi kehutanan Dendi Sutiadi, dengan disaksikan 1 petugas Karantina Bandara Soekarno Hatta. Tersangka kasus ini tidak ditahan dikarenakan dijamin oleh pihak Kedutaan yang bersangkutan

Dwi Nugroho dari WCS ( Wildlife Conservation Society ) menegaskan: “Upaya petugas Bea dan Cukai bandara Soekarno Hatta, adalah bentuk keseriusan dalam memberatas penyelundupan  keaneka ragaman jenis hayati, harapannya tersangka pelaku kejahatan ini dapat di hukum seberat-beratnya sesuai UU yang berlaku. Dunia internasional saat ini melihat keseriusan Indonesia dalam melakukan penegakan hukum, ini dapat menjadi preseden buruk apabila tersangka tidak di hukum maksimal.”

Pramudya Harzani dari JAAN ( Jakarta Animal Aid Network ) menegaskan: “JAAN mendesak kepada pihak terkait agar Penyelundupan terhadap keaneka ragaman hayati harus ditindak tegas sesuai dengan UU yang berlaku, pelaku kejahatan ini harus mendapatkan hukuman maksimal karena ini merugikan negara. BKSDA DKI Jakarta sebagai pihak yang diserahkan kasusnya harus dapat menyelesaikan kasus ini hingga tersangka dapat diadili di pengadilan. Kasus ini membuktikan bahwa DKI Jakarta masih merupakan tempat perdagangan satwa illegal Internasional, dan ini harus diberantas ”

Irma dari LASA ( Lembaga Avokasi Satwa ) Menegaskan : “Penindakan tegas terhadap para penyelundup satwa adalah keharusan karena ini melanggal UU yang berlaku, para pelanggar UU ini seharusnya tidak dibeda-bedakan apakah itu WNI atau WNA demi keadilan, seharusnya tersangka dapat ditahan dikarenakan berdasarkan pengalaman kami, pelaku yang tidak ditahan dapat melarikan diri. Tidak ada tawar menawar bahwa tindak pidana kejahatan terhadap satwa diancam pidana penjara maksimal 5 tahun dan amanah KUHAP membenarkan hal itu”

Zulham dari IAR (International Animal Rescue) menegaskan :“IAR Indonesia mendukung upaya pihak yang terkait untuk  mengungkap tuntas pelaku kejahatan satwa liar.dengan adanya pengusutan kasus ini maka dapat mengurangi hingga memberhetikan perdagangan dan perburuan serta tekanan terhadap populasi satwa liar Indonesia.hal ini dapat menjadi preseden yang buruk bagi Indonesia dimata Internasional apabila tidak dapat menuntaskan kasus ini ”.

Tri Prayudhi ( ProFauna) Menegaskan: hasil Investigasi ProFauna Tahun 2007-2008, bahwa ada sekitar 10.000 ekor burung Nuri dan Kakatua yang di tangkap dari Maluku Utara dan Papua untuk diperdagangkan, 41 % diselundupakan ke Philipina dan 69 % diperdagangkan di tingkat lokal. ProFauna meminta  agar BKSDA DKI Jakarta dapat menuntaskan kasus ini, tersangka kasus penyelundupan ini harus diproses sesuai hukum yang berlaku, dan petugas dapat segera mengusut hingga ke sumbernya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s